Rabu, 17 November 2010

Kekasihku adalah Buku

Kekasihku adalah buku yang takkan muak denganku,
Meski harta menjadi sedikit dan ketampanan mulai susut,
Buku sang pujaan hatiku, di kala tak ada tambatan qalbu,
Kan kurayu jikalau dia memahami rayuan qalbu,
Buku.. teman setiaku kala duduk, yang takkan merasa jemu,
Penjelas kebenaran yang tak membuat jemu,
Buku.. lautan yang takkan menarik pemberiannya,
Membanjiriku dengan harta, meski harta menahannya,
Buku.. petunjuk terbaik untuk meraih asaku,
Darinya selalu ada pengalaman baru dan penerang langkahku,

Bait-bait yang terpampang pada lemari Imam Abu Bakar Al-Qoffal
(Taqyid Al-‘Ilm 127)

Sabtu, 13 November 2010

Futur

Kemenangan yang dirindu kian menambah jarak,
Kekalahan yang ditakutkan kian dicintai,
Segala arah rencana tidak tersusuri,
Sekian banyak cita-cita telah retak,

Aku kesepian ditengah manusia-manusia yang selalu menengadah ke arah langit dalam tundukan hati dan badan mereka,

Minggu, 07 November 2010

Ingat-ingatlah kata-kataku ini....!


Tulisan ini bukanlah perkataan ulama, ahli hikmah maupun seorang bijak zaman ini, akan tetapi tulisan ini adalah goresan hatiku yang kubuat atas rasa sedihku karena seorang sahabat wanita yang berani menebar fitnah dan syubhat mengenai manhaj salaf dan ulama ahlus sunnah. Di dalam tiap kata yang kurangkai terdapat hikmah yang ingin kusampaikan ke hatiku sendiri -  yang telah aku analogikan ke dalam bahasa sederhana. Jangan salah memahami kalimat-kalimat berikut, sekali lagi kukatakan, ini hanyalah analogi mengenai pesan seseorang kepada seorang lainnya untuk patuh agar dia sampai ke tempat yang ingin dia tuju. 

Aku sangat berharap sekali sahabatku sekalian memahami bagaimana makna dan bagaimana  Ittiba' karena begitu jauhnya jarak waktu antara kita dan Rosululloh sehingga penyimpangan itu pasti terjadi, jadi ingatlah apa yang dipesankan oleh Rosululloh sholallohu 'alayhi wa sallam baik-baik dan laksanakan seperti yang beliau pesankan, inysaAlloh akan sampailah kita ke tempat yang kita harapkan tuju.


 = = =

Yang engkau tanam akan engkau tuai, yang engkau pelihara akan engkau dapatkan. Jagalah dirimu baik-baik nak, di depan sana terdapat padang yang tandus dan subur, setelah itu bukit dan lautan, di antara dan di dalamnya ada hewan-hewan jinak dan buas ada yang bisa engkau makan dan ada yang engkau dilarang untuk memakannya.

Minuman dan udara serta tanah yang akan engkau jadikan pijakan telah disediakan untukmu, teruslah telurusi jalan ini, nanti di sepanjang jalan akan ada anak-anak panah dan penunjuk mata angin, ini aku bekali kompas untukmu, dan ingatlah bahwa matahari itu tenggelam di sebelah barat dan timbul di sebelah timur.
Sesekali nanti engkau akan menemui lubang dan kerikil, hujan dan terik mentari yang menghangatkan dan juga bisa menyengat kulitmu, jadi ketahuilah waktu untuk menantangnya.
Jangan engkau abaikan anjing yang kehausan ataupun kuda yang jatuh terperosok ke dalam kubangan, bantulah mereka, jika engkau tidak mampu carilah pertolongan, jangan membiarkan dirimu hanya berkata 'kasihan' dengan suara lantang agar orang percaya bahwa engkau memiliki rasa kasihan dihatimu padalah engkau tidak seperti itu.
Ingatlah pesanku baik-baik, Yang engakau Tuju sedang menunggumu di sana, jika engkau berhasil apapun yang engkau mau akan Ia kabulkan. Semalam Dia telah menjelaskan sebuah peta jalan untuk ke tempat Dia berada, ingatanku masih kuat tentang itu karenanya aku telah menunangkannya ke dalam peta ini agar lebih mudah engkau pahami dan bisa engkau bawa berpergian.
Jikalau engkau tidak mengikuti peta ini, tidak memanfaatkan peralatan yang telah kuperbekali engkau untuk kepergianmu, dan tidak mengindahkan kata-kataku maka jangan bersedih hati jika nanti kita tidak bertemu kembali. Jagalah dengan baik-baik peta ini dan engkau tidak perlu takut kertasnya akan hancur karena Dia telah menyampaikan padaku bahwa peta ini tidak akan pernah rusak selama engkau menjaga dan menyusuri jalan sesuai dengan yang ada didalamnya.
Telusurilah terus jalan ini nak, jika engkau membutuhkan permata atau pakain silahkan singgah sesaat untuk mengambilnya sebagai perbekalan.
Dia telah mengatakan waktumu sangat terbatas, tidak lebih lama dari habisnya pasir-pasir di tabung ini jatuh ke lantai, karenanya manfaatkanlah waktumu baik-baik jangan terlena ketika ada yang menawarimu berbincang sambil menikmati suguhan untuk tertawa bersama saling mempertontonkan gigi kalian.


in full of sadness,
Asiyah bint Zainy 

Sabtu, 30 Oktober 2010

Pendapat seorang Bapak-bapak beragama Hindu tentang Bid'ah

Beberapa bulan lalu ada seorang  Bapak-bapak beragama Hindu setengah baya, yaitu pegawai kantor gubernur NTB yang datang berbelanja ke gudang barang keluarga saya yang terletak di sentra kerajinan bambu Gunungsari - Lombok Barat, berikut cerita singkatnya:

Pak Nyoman  : “Assalamu'alaikum Pak Aji,”
Bapak  : “Wa'alaikumsalam warohmatulloh . Kebetulan waktu itu Bapak saya belum tahu kalau Pak Nyoman agamanya Hindu, saking fasih ucapan salamnya, makanya dijawab. 
“Cari apa, Pak?”
Pak Nyoman  : “Pak, saya mau cari kere (tirai bambu), ada?”
Bapak  : “Oh, ada Pak, silahkan lihat di sini.”

Beberapa saat Pak Nyoman memilih-milih tirai bambu yang dipajang di gudang bagian dalam, setelah menemukan yg dicari kemudian beliau dipersilahkan duduk  di gudang barang bagian depan yg kebetulan dekat dengan jalan raya. Transaksipun terjadi, negosiasi harga dan sistem pengiriman dibicarakan. Beberapa topik ringan hingga topik-topik pembicaraan yang mengungkapkan jati diri Pak Nyoman diperbincangkan, akhirnya Bapak Saya tahu  bahwa beliau seorang beragama Hindu. Dalam hati, si Bapak ingin tertawa terbahak-bahak karena telah terkelabui oleh fasihnya ucapan salam Pak Nyoman tadi.
Tiba-tiba, “teng… teng… teng.. teng.. teng.. prankkkk!!”, suara dentum alat musik khas  arak-arakan upacara ummat Hindu terdengar menggelegar melintasi jalan, terlihat serombongan pemuda duduk di pinggir-pinggir mobil pick-up mengenakan kain berkotak-kotak hitam putih dan topi kuning keemasan di kepala, di tengah-tengah mereka ada sebuah boneka besar dengan wajah yang sangat menyeramkan dengan jari-jari berkuku tajam dan dibuat berkesan kotor, taringnya  seperti gading gajah yang diasah dan rambutnya kusut disertai mata melotot yang pernah selalu membuat Saya berkeringat ketakutan hampir pingsan setiap kali melihatnya waktu kecil dulu.

Bapak : “Loh, Bapak ndak ikut upacara agama?”
Pak Nyoman : “Acara agama apa ya Pak Aji?”
Bapak : “Itu acara angkat ogoh-ogoh (patung jelmaan setan khas bali) yg lewat tadi.”
Pak Nyoman : “Eeeh Pak Aji ini, bukan acara kita yang kayak begitu-begitu, anak-anak pemuda sekarang ini aja sih yang punya kerjaan. Udah tahu itu BID’AH masih aja dikerjain. Padahal ndak ada untungnya yang begitu-begitu. Ngabisin uang, ngabisin waktu, ngabisin tenaga, ntar  ujung-ujungnyanya besiaq (bertengkar) dah biasanya.”
Bapak saya tekejut mendengar ucapan Pak Nyoman. Ingin memastikan ucapan beliau si Bapak sampai tanya lagi “Hah? Apa Pak, Bid’ah?”
Pak Nyoman : “Iya, pasti sih Pak Aji tau bid’ah itu apa, orang saya dikasitahu dan jadi ngerti tentang bid’ah dari orang Islam.”
Bapak : “Memangnya siapa yg kasi tau Side (kamu, bahasa sopan) arti bid’ah itu?”
Pak Nyoman : “Pak Gubernur NTB, setiap habis sholat dzuhur itu pasti dah ada kayak ceramah-ceramah itu beberapa menit, kedengaran sampe ruang kantor. Kan semenjak gubernur  Tuan Guru Bajang (Ustad muda) sekarang kalo udah mendekati adzan nda boleh ada yang kerja, harus semuanya istirahat dan yang beragama Islam harus sholat di masjid. Eeh, kebagusnya Pak Gubernur yang sekarang ini.”
Bapak : “Ooh gitu. Alhamdulillah pak kalau menurut Side begitu, jadi gimana bid’ah itu menurut penangkapan Side?”
Pak Nyoman : “ Yah itu dah, apa-apa yang ndak pernah diajarkan agama dari orang-orang dulu. Kan kayak ogoh-ogoh ini baru-baru di Bali adanya, kerjaan anak-anak muda yang mau senang-senang, capek-capekkan kita ngeluarin uang aja”



Pertengahan tahun 2010,
Asiyah bint Muhammad Zainy



NB: Pak Nyoman = Nama samaran (hehe)

Sabtu, 18 September 2010

Diam Menanti

Hatiku tetap membungkam bunyinya walaupun mulutku mengicaukan suara berbeda,
Jumlah frekuensi detak sudah tak terhitung,
Hanya suara sumbang yang kuperdengarkan,
Aku tidak mau kalah melawan dia dalam diriku,


Orang berkata angin itu hambar,
Kerjanya hanya mengeringkan jemuran dan menghilangkan keringat,
Aku tak ingin mengumbar,
Karena yang aku rasakan aroma dan rasanya manis dan menyenangkan,


Dia yang selalu aku rindukan kubiarkan,
Menjelajah mencari maunya dan aku,
Hingga dia sudah tegak dan tak ingin menoleh depan bersama yang lain,
Dengan kesucian, kerinduan, dan kesiapan  dalam dirinya,
Lihatlah aku, sudah lama hanya menantimu.


17 September 2010, 01.10 am
[Malam setengah purnama setelah seharian mencari abaya hitam pekat yang tak berhasil ditemukan]


- Asiyah in Missing,